A.     VISI PENGELOLAAN

Berdasarkan proyeksi 10 tahun ke depan sesuai dengan kondisi yang diinginkan pada pembahasan bab sebelumnya maka visi pengelolaan Taman Nasional Kutai adalah “Optimalnya Peran Taman Nasional Kutai Sebagai Habitat Terbaik Orangutan Morio (Pongo pygmaeus morio) dan Bagi Kesejahteraan Masyarakat”.

Visi optimalnya peran Taman Nasional Kutai sebagai habitat terbaik orangutan morio mengandung arti sebagai berikut:

  1. Ekosistem Taman Nasional Kutai sebagai habitat orangutan morio terlindungi dengan baik. Sesuai dengan sejarah pembentukan Taman Nasional Kutai maka luasan wilayah jelajah satwa seperti orangutan, bekantan, banteng dan beruang madu berada pada lansekap Kutai yang awalnya berjumlah 2 juta hektar. Dari luasan 2 juta hektar tersebut sekarang hanya tersisa 192.709,55 ha atau kurang dari 10%nya saja dari luasan semula. Wilayah yang dulunya habitat satwa-satwa tersebut sekarang berubah menjadi areal pemukiman, areal konsesi pertambangan dan perkebunan sehingga luasan habitat satwa-satwa tersebut yang aman dari gangguan manusia semakin sedikit. Taman Nasional Kutai yang tersisa kurang dari 10% dari luasan semula merupakan habitat terlindungi yang aman bagi kehidupan orangutan dan satwa lainnya.
    Luasan yang relatif kecil ini harus dijaga dan dipulihkan ekosistemnya agar menjadi habitat yang baik dan nyaman bagi orangutan dan satwa lainnya sehingga kelestarian populasi orangutan tetap terjaga dengan baik.
    Saat ini populasi orangutan yang ada di Taman Nasional Kutai adalah berkisar antara 1200 – 1500 individu, dengan luasan Taman Nasional Kutai yang ada maka 1 individu orangutan menempati 1,3 – 1,6 Km2 bahkan kurang. Kalau memperhatikan bahwa jumlah orangutan yang berada di luar kawasan konservasi ada 75%, maka jumlah orangutan yang berada di luar Taman Nasional Kutai adalah 3600 - 4500 individu. Jumlah ini cukup banyak sehingga yang harus dilakukan oleh Balai Taman Nasional Kutai selaku pengelola Taman Nasional Kutai adalah memulihkan ekosistem Taman Nasional Kutai secara cepat melalui penanaman dan kegiatan pemulihan ekosistem lainnya sembari terus menjaga agar habitat orangutan tidak terus terdegradasi.
  2. Ketersediaan pohon pakan dan pohon sarang cukup untuk mendukung kehidupan orangutan morio di Taman Nasional Kutai. Salah satu penunjang kehidupan orangutan morio adalah ketersediaan pohon pakan dan pohon sarang yang cukup bagi kelangsungan hidup orangutan morio. Visi Taman Nasional Kutai 10 tahun kedepan adalah tersedianya pohon pakan dan pohon sarang yang mencukupi kebutuhan hidup orangutan morio di Taman Nasional Kutai.
  3. Gangguan terhadap populasi orangutan morio relatif kecil. Ketidak layakan habitat orangutan morio di luar kawasan konservasi adalah tingginya gangguan populasi dan habitat orangutan morio. Visi Taman Nasional Kutai 10 tahun kedepan adalah memastikan bahwa gangguan terhadap populasi dan habitat orangutan morio relatif kecil dan tidak berpengaruh terhadap kehidupan orangutan morio.
  4. Taman Nasional Kutai mampu menunjang kehidupan orangutan morio yang berada di sekitarnya. Seperti diketahui bahwa populasi orangutan morio 75% berada di luar kawasan konservasi sehingga peran penting Taman Nasional Kutai amat dibutuhkan untuk memberikan tempat kepada populasi orangutan yang berada di luar Taman Nasional Kutai untuk hidup layak dengan kecukupan pakan dan pohon sarang. Visi Taman Nasional Kutai 10 tahun kedepan adalah memberikan ruang bagi populasi orangutan yang berada di luar Taman Nasional Kutai agar dapat hidup dan berkembang dengan baik dengan Taman Nasional Kutai sebagai penunjang kehidupannya.

Visi yang kedua adalah peran Taman Nasional Kutai bagi kesejahteraan masyarakat yang selaras dengan konsideran yang kedua yaitu mempertahankan dan mengembangkan obyek wisata alam yang ada di dalamnya. Pengertian ini adalah bahwa ke depan Taman Nasional Kutai harus mampu berperan tidak hanya secara ekologis namun juga secara ekonomis mampu memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat. Kontribusi ekonomi ini oleh PP 28 tahun 2011 tentang pengelolaan KSA dan KPA telah dinyatakan secara eksplisit bahwa taman nasional dapat dimanfaatkan hasil hutan non kayu dan jasa lingkungannya secara lestari. Saat ini minat akan pengembangan wisata yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat terus meningkat. Minat yang tinggi ini perlu dibarengi dengan pembinaan yang terus-menerus dan berkelanjutan sehingga pengembangannya sesuai dengan rencana pengelolaan Taman Nasional Kutai. Minat ini secara jelas ditunjukkan oleh masyarakat Desa Swarga Bara dan beberapa desa lainnya yang berada di sekitar Taman Nasional Kutai. Namun demikian, pengelolaan yang mereka lakukan belum sesuai dengan pengelolaan wisata seperti yang diamanahkan oleh PP 36 tahun 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Kawasan Suaka Margasatwa, Taman Hutan Raya, Taman Nasional dan Taman Wisata Alam. Kekurangan ini harus dapat dibantu oleh Balai Taman Nasional Kutai selaku pengelola agar manfaat Taman Nasional Kutai benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Demikian halnya dengan hasil hutan non kayu seperti buah mangrove yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai industri rumah tangga. Pemanfaatan buah ini juga harus dikelola dengan baik sehingga tidak mengganggu permudaan alami dari pohon mangrove itu sendiri.
Peran Taman Nasional Kutai tidak terbatas hanya pemanfaatan jasa lingkungan dan hasil hutan non kayu saja namun juga harus mampu mendukung inisiatif-inisiatif yang dikembangkan oleh masyarakat yang ada di desa penyangga Taman Nasional Kutai. Sebagai contoh Desa Kandolo yang akan mengembangkan produk gula aren, dukungan Taman Nasional Kutai harus terus dilakukan secara intensif agar baik dari segi pembibitan, penanaman, produksi gula hingga pemasaran dapat dilaksanakan masyarakat dengan baik. Dengan industri dan upaya-upaya ekonomi yang terus berkembang diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat akan produk kayu dari Taman Nasional Kutai sehingga tekanan terhadap kawasan semakin menurun.  

 

B. MISI PENGELOLAAN

Berdasarkan visi yang dijabarkan tersebut maka misi pengelolaan adalah:

  1. Menjaga keutuhan kawasan, melakukan penataan dan memulihkan ekosistem yang rusak. Menjaga keutuhan kawasan bukan saja menjaga luasan kawasannya saja tetapi juga menjaga ekosistem kawasan agar tetap terjaga dengan baik. Sesuai dengan visi Taman Nasional Kutai sebagai habitat orangutan morio maka kelestarian dan keutuhan kawasan harus tetap tejaga dengan baik sehingga menjadi habitat terbaik bagi orangutan morio di Kalimantan Timur.
  2. Melindungi dan mengamankan populasi dan habitat orangutan morio dan flora fauna langka lainnya. Salah satu upaya untuk tetap menjaga habitat orangutan morio adalah dengan melakukan pengawasan yang ketat melalui pengawasan yang rutin dan terencana. Perlindungan terhadap orangutan morio juga akan melindungi kawasan secara keseluruhan.
  3. Melakukan inventarisasi dan memonitoring populasi dan habitat orangutan morio dan flora fauna langka lainnya. Untuk memastikan kondisi populasi orangutan morio terjaga dengan baik perlu melakukan inventarisasi dan monitoring secara rutin dan menyeluruh sehingga dinamika populasinya tetap terpantau dengan baik. Hal ini juga penting bagi pengambilan kebijakan agar sesuai dengan situasi dan kondisi terkini.
  4. Memberikan penyadartahuan tentang pelestarian Taman Nasional Kutai. Disisi lain dalam upaya menjaga kelestarian kawasan adalah menanamkan kepada generasi muda tentang arti pentingnya Taman Nasional Kutai bagi kehidupan manusia. Upaya ini penting untuk mengubah perilaku merusak menjadi perilaku memelihara sehingga dapat manjdi jaminan kelestarian kawasan di masa mendatang.
  5. Meningkatkan pemanfaatan Taman Nasional Kutai bagi kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat maka manfaat Taman Nasional Kutai bagi masyarakat harus menjadi poin penting pengelolaan. Manfaat besar yang dirasakan masyarakat khususnya bidang ekonomi akan meningkatkan kepedulian dan rasa kepemilikan yang berujung pada keinginan untuk menjaga dan memelihara Taman Nasional Kutai.
  6. Memperkuat kelembagaan Taman Nasional Kutai. Penguatan kelembagaan Taman Nasional Kutai menjadi sangat penting ditengah perubahan kebijakan daerah yang demikian pesat sehingga diharapkan dengan kelembagaan yang kuat mampu menghadapi dinamika kawasan yang terus berkembang.