Taman Nasional Kutai adalah kawasan pelestarian alam yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur. Taman Nasional Kutai mempunyai ekosistem hutan hujan dataran rendah dengan ketinggian antara 0 - 400 mdpl. Tipe vegetasi yang terdapat di kawasan ini adalah tipe hutan dataran rendah yang didominasi oleh ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea sp) dan kapur (Dryobalanops sp), hutan rawa yang didominasi oleh tumbuhan perupuk (Lophopethalum sp), hutan mangrove yang didominasi oleh Rhizophora mucronata, R. apiculata, Sonneratia alba, S. caseolaris dll., hutan kerangas dan hutan pantai.
Batas-batas Taman Nasional Kutai antara lain, di bagian timur : Batas Taman Nasional Kutai memanjang dari garis pantai Selat Makassar sepanjang ± 60 km. Batas utara mengikuti alur Sungai Sangatta. Batas sebelah selatan merupakan garis lurus dari titik ikat di Kelurahan Bontang Kuala dan berbatasan dengan Hutan Lindung Bontang, PT Indominco Mandiri, PT Kitadin, PT Tambang Damai dan PT Surya Hutani Jaya. Batas sebelah barat berbatasan dengan HTI PT Kiani lestari (non aktif) dan sebagian PT Surya Hutani Jaya (SRH).
Kawasan Taman Nasional pertama kali diusulkan oleh seorang ahli geolog asal Belanda yang bernama H.Witkamp dengan luas kurang lebih 2 juta hektar. Usulan ini kemudian ditetapkan oleh pemerintah kerajaan Hindia Belanda melalui SK (GB) No. 3843/Z/1934 pada tahun 1934. Pada tahun 1936, oleh Sultan Kutai, kawasan ini kemudian ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa Kutai. Namun, luasan kawasannya berkurang menjadi 306.000 hektar. Pada tahun 1957, setelah Indonesia merdeka dan seluruh tanah kerajaan diserahkan kepada pemerintah Indonesia, kawasan ini ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa Kutai. Adapun surat keputusan penetapan Suaka Margasatwa Kutai dikeluarkan oleh Menteri Pertanian melalui surat nomor SK No. 110/UN/ 1957, tanggal 14 Juni 1957 dengan luasan 306.000 hektar. Pada tahun 1971 melalui surat Menteri Pertanian No. 280/Kpts/Um /6/ 1971 tanggal 23 Juni 1971, luas Suaka Margasatwa kutai berkurang menjadi 200.000 hektar.
Pada tahun 1982, dalam Kongres Taman Nasional Se-dunia ke-3 di Bali pada tanggal 14 Oktober 1982, Menteri Pertanian mengumumkan 11 calon taman nasional yang salah satunya adalah Taman Nasional Kutai. Kawasan ini merupakan taman nasional ke 8 yang diusulkan dengan luasan 200.000 hektar. Namun, hingga tahun 1995, kawasan ini masih tetap berstatus sebagai Suaka Margasatwa Kutai.
Pada tahun 1991, dikarenakan adanya perluasan Kota Bontang dan pengembangan PT Pupuk Kalimantan Timur terjadi pengurangan terhadap luasan Suaka Margasatwa Kutai. Luasan yang berkurang adalah sebesar 1.371 hektar melalui surat keputusan Menteri Kehutanan No. 435/Kpts-II/1991 Tanggal 22 Juli 1991. Pada tahun 1995 atau 13 tahun sejak dideklarasikan menjadi calon taman nasional, akhirnya Suaka Margsatwa Kutai diubah fungsi dan ditunjuk menjadi Taman Nasional Kutai melalui surat keputusan Menteri Kehutanan No. 325/Kpts-II/1995 Tanggal 29 Juni 1995 dengan luasan 198.629 hektar.
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 4194/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 10 Juni 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Nasional Kutai, luasan Taman Nasional Kutai adalah seluas 192.709,55 Ha (Seratus Sembilan Puluh Dua Ribu Tujuh Ratus Sembilan Koma Lima Puluh Lima Hektar). Taman Nasional Kutai secara administrasi pemerintahan terletak di Kota Bontang (0,37%), Kabupaten Kutai Kartanegara (12,88%) dan Kabupaten Kutai Timur (86,75%), Propinsi Kalimantan Timur. Secara geografis, Taman Nasional Kutai terletak di 0°7’54” - 0°33’53” Lintang Utara dan 116°58’48” - 117°35’29” Bujur Timur.
Kantor pengelolaan Taman Nasional Kutai berada di Kota Bontang dengan dibantu oleh dua seksi pengelolaan yaitu Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sangatta yang berkantor di Sangatta dan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Tenggarong yang berkantor di Samarinda.
Kawasan ini merupakan habitat penting dari berbagai jenis flora dan fauna langka khususnya orangutan. Jenis orangutan yang hidup di Taman Nasional Kutai adalah Pongo pgmaeus morio, dimana jenis ini merupakan sub spesies dari orangutan Kalimantan (Pongo pygameus) yang hanya hidup di bagian timur Pulau Borneo. Selain kekayaan hayatinya, kawasan ini juga memiliki potensi wisata alam yang sejauh ini telah memberikan pendapatan negara bukan pajak dari sektor kehutanan secara rutin setiap tahunnya. Potensi jasa lingkungan lainnya adalah jasa air yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Setidaknya terdapat 25 sungai yang berhulu di Taman Nasional Kutai sehingga keberadaan kawasan ini sangat penting untuk menjaga stabilitas ketersediaan air bagi kehidupan sekitarnya.